Mottoku

Admin mengucapkan Selamat Beraktivitas - Sehat dan Sukses selalu

Sabtu, 12 Juli 2014

Pragmatisme dan Manusia Modern

( Disunting oleh : H. B. Fanumbi, SS )
Sumber http://noexs.blogspot.com

A.    Arti dan Pengertian Pragmatisme 
Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti tindakan, perbuatan.  

Dari kata ini, maka Pragmatisme dapat kita rumuskan sebagai berikut : 
Pragmatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa sesuatu yang benar dapat membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Di dalam Pragmatisme segala sesuatu dapat diterima, asal saja membawa akibat dan manfaat yang praktis. Pengalaman misterius yang bertalian dengan alam gaib bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat
Berdasarkan arti dan pengertian di atas, Pragmatisme dapat kita rumuskan secara singkat sebagai suatu ALIRAN YANG MENGUTAMAKAN ASA MANFAAT BAGI HIDUP PRAKTIS”. 
              Dalam keseharian hidup, banyak di antara kita yang cukup sering menyebut kata ini. Hal ini terjadi kalau seseoranmg atau kelompok orang tidak dapat menerima suatu teori atau argumen sehingga mereka menuntut aiubat praktis yang dapat dilihat, dirasakan dan dapat disikapi.  Jika orang berkata, pendapat atau argumentasi ini kurang pragmatis, maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis dan tidak membawa dampak praktis yang dapat dilihat, dirasakan dan disikapi.   

       Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran tentang sesuatu hal haruslah memiliki manfaat yang secara nyata dapat dilihat, dirasakan dan disikapi dalam pemenuhan kebutuhan dan nilai nilai universal dalam kehidupan nyata sehari hari. Sesuatu kebenaran dapat disebut relatif jika tidak menjelaskan asas manfaat bagi seseorang atau kelompok masyakrakat.

Di dalam pragmatisme terdapat tiga patokan utama yaitu,
(1) Menolak segala intelektualisme, dan
(2) Absolutisme,
(3) Meremehkan logika formal.

B. Tokoh-tokoh Filsafat Pragmatisme

Filosuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey.

1.  William James (1842-1910 M)

       William James lahir di New York pada tahun 1842 M, anak Henry James, Sr. ayahnya adalah orang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, dan pemikir yang kreatif. Selain kaya, keluarganya memang dibekali dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam kehidupan serta mengembangkannya. Ayah James rajin mempelajari manusia dan agama. Pokoknya, kehidupan James penuh dengan masa belajar yang dibarengi dengan usaha kreatif untyuk menjawab berbagai masalah yang berkenaan dengan kehidupan. 


         Di dalam bukunya The Meaning of Truth, Arti Kebenaran, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam pengembangan itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu, tidak ada kebenaran mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran (artinya, dalam bentuk jamak) yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh poengalaman berikutnya. Nilai pengalaman dalam pragmatisme tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya artinya tergantung keberhasilan dari perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar jikalau bermanfaat bagi pelakunya, jika memperkaya hidup serta kemungkinan-kemungkinan hidup.

            Buku James lainnya yang terkenal adalah The Varietes of Religious Experience (keanekaragaman pengalaman keagamaan). Menurut James gejala keagamaan itu berasal dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan diri di dalam kesadaran dengan cara yang berlainan. Barangkali di dalam bawah sadar kita, kita menjumpai suatu relitas cosmis yang lebih tinggi tetapi hanya sebuah kemungkinan saja. Sebab tiada sesuatu yang dapat meneguhkan hal itu secara mutlak. Bagi orang perorangan, kepercayaan terhadap suatu realitas cosmis yang lebih tinggi merupakan nilai subjektif yang relatif, sepanjang kepercayaan itu memberikan kepercayaan penghiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damain keamanan dan kasih kepada sesama dan lain-lain.
   

2. John Dewey (1859-1952 M) 

        Sekalipun Dewey bekerja terlepas dari William James, namun menghasilkan pemikiran yang menampakkan persamaan dengan gagasan  James. Dewey adalah seorang yang pragmatis. Menurutnya, filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau mengatur kehidupan manusia serta aktivitasnya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi. Theori James tentang pragmatisme harus kita akui banyak menginspirasi Dewey dalam pola pemikirannya tentang asas manfaat terutama di dunia pendidikan 
B.            Pragfmatisme dan instrumentalisme

         Sebagai pengikut pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah ilmu yang memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Dewey lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme. Pengalaman adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Oleh karena itu filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara aktif-kritis. Dengan demikian, filsafat akan dapat menyusun sistem norma-norma dan nilai-nilai.
Instrumentalisme ialah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran itu berfungsi dala penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan. 

Menurut Dewey, kita ini hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme. 
1. kata “temporalisme” yang berarti bahwa ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu.
     2. kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin. 
     3. Milionarisme, berarti bahwa dunia dapat diubah lebih baik dengan tenaga kita. 
  
P   Pandangan ini dianut oleh wiliam james

C.   Bahaya Pragmatisme dalam Keseharian Hidup Manusia
             Pragmatisme adalah suatu bagian dari ilmu Filsafat yang dapat sangat membantu manusia dalam menata kehidupannya secara lebih baik, namun dalam penataan itu diperlukan suatu cara pikir yang global tanpa harus memutlakkan asas manfaat tentang kemunculan sesuatu hal sebagai misteri yang sulit dipecahkan dengan akal sehat (logika ).  
Mengapa demikian ??? 
jika berpijak pada asas manfaat maka bayi yang baru lahir,  orang manula, orang cacat, orang yang terganggu mentalnya / tidak waras ( gila ), akan dipandang sebagai beban berat yang perlu disingkirkan karena tidak bermanfaat secara langsung. Bahaya yang lainnya adalah akan muncul penyangkalan akan apa yang tidak dapat dibuktikan secara logis. Dalam konteks ini, Tuhan dapat direduksikan menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat karena tak dapat dibuktikan keberadaannya dan karena itu dapat dianggap sebagai kebenaran yang relatif. 
Dalam menghadapi kesulitan atau tekanan ekonomi, seorang kepala atau ibu rumah tangga yang tidak sanggup mengatasi tekanan ekonominya akan berpendapat bahwa Tuhan tidak atau bahkan ssama sekali tidak bermanfaat dalam kehidupannya. Seorang siswa yang tidak dapat memahami pelajaran fisika dan kimia dapat saja mengatakan pada dirinya bahwa pelajaran itu tidak bermanfaat.  Dalam konteks politik, orang yang memiliki modal  ( kaum kapitalis ) akan memandang dirinya sebagai orang yang sangat bermanfaat ketimbang rakyat biasa. Dalam hal Agama, pragmatisme dapat mendorong seseorang atau kelompok orang untuk menjadikannya sebagai ALAT untuk melegalkan kekuasaan. Dalam tatanan adat istiadat, pragmatisme akan mereduksikan ritual adat sebagai sesuatu yang hanya boros waktu dan energi karena tidak mendatangkan manfaat praktis secara langsung.  

Pragmatisme dapat menyebabkan timbulnya pandangan bahwa tidak ada hukum moral umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final. Ini berakibat subyektivisme, individualisme, dan dua ini saja sudah cukup untuk mengguncangkan kehidupan, mengancam kemanusiaan, bahkan manusianya itu sendiri 

Penutup 
Kita tak dapat memungkiri bahwa kehadiran Pragmatisme sebagai suatu aliran Filsafat telah mendorong kita berpikir kritis dan bertindak lebih efektif untuk memperoleh manfaat sebesar besarnya dari keberadaan sesuatu bagi diri kita, bagi sesama dan lingkungan pijakan kita. Namun di sisi lain, kita tak dapat mengelak untuk mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada, tidak dapat diukur keberadaannya hanya pada aspek manfaatnya semata mata. Dalam konteks ini, kita  perlu mengasah ketajaman pikiran kita untuk selalu berkata pada diri kita sendiri : TUJUAN YANG BAIK TIDAK MENGHALALKAN SEGALA CARA. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar