|
3 Hukum Mestakung
( Dikutip oleh H. B. Fanumbi, SS )
http://www.yohanessurya.com/activities.php?pid=401
|
|
Apa yang terjadi ketika kita menuangkan
pasir sedikit demi sedikit ke atas lantai? Ya betul, pasir akan membentuk
suatu bukit pasir kecil. Jika kita terus menuangkan pasir, bukit pasir ini
makin lama makin besar dan makin tinggi. Ketika bukit pasir mencapai suatu
ketinggian tertentu yang kita sebut ketinggian kritis terjadilah suatu
keanehan. Pada ketinggian kritis ketika kita terus menjatuhkan butir pasir,
butir-butir pasir ini mengatur dirinya, mempertahankan agar kemiringan bukit
pasir tidak berubah. Memang bukit semakin besar, tetapi kemiringan
tetap sama. Aneh bukan? Sepertinya pasir-pasir ini punya otak untuk
menghitung agar kemiringan bukit pasir tidak berubah.
Peristiwa pengaturan diri seperti yang terjadi pada pembentukan bukit pasir
ini merupakan satu diantara ribuan bahkan jutaan peristiwa pengaturan diri
yang terjadi di alam ini. Peristiwa-peristiwa pengaturan
diri ini terjadi ketika suatu sistem berada pada kondisi kritis. Pada
kondisi kritis, tiap individu berinteraksi dengan individu-individu lain.
Kemudian individu-individu ini secara bersama-sama mengatur dirinya (self
organizing criticality) sehingga mem-brojol-lah (emerge) sesuatu
keadaan yang baru, yang berbeda dari biasanya. Dalam fisika, proses
pengaturan diri pada kondisi kritis dikenal sebagai fenomena kritis (critical
phenomena).
Apa yang terjadi pada air yang berada dalam kondisi kritis (kondisi dimana
air berada dalam wujud cair dan gas secara bersamaan yaitu ketika air berada
pada tekanan 218 kali tekanan udara normal dan suhu 3740C)?
Disini juga terjadi proses pengaturan diri (self organizing criticality).
Ketika suhu air kritis ini diturunkan sedikiiit saja, secara tiba-tiba
seluruh molekul (tidak hanya satu, ya seluruh molekul), sepertinya ada yang
menyuruh, mengubah air kritis menjadi cair. Atau ketika tekanan
diturunkan sedikiit saja, maka secara tiba-tiba seluruh molekul akan mengubah
air ini menjadi gas.
Proses pengaturan diri ini terjadi juga pada fenomena magnet yang dipanaskan
sampai suhu kritis yang dinamakan suhu Curie. Magnet yang dipanaskan
melewati suhu kritis ini secara tiba-tiba dapat kehilangan
sifat magnetnya. Ataupun pada fenomena superkonduktor yaitu ketika
suatu material didinginkan hingga suhu tertentu yang kita namakan suhu
kritis, secara tiba-tiba kehilangan hambatan listriknya.
Dalam biologi peristiwa pengaturan diri ini terjadi pada angsa-angsa yang
hidup didaerah 4 musim. Ketika musim dingin tiba
angsa-angsa berada pada kondisi kritis. Jika mereka diam ditempat mereka akan
mati, sebaliknya jika mereka harus terbang sendiri ribuan kilometer mencari
daerah hangat, mereka juga akan mati (tidak sanggup terbang sejauh itu). Pada
kondisi kritis ini terjadilah pengaturan diri, angsa-angsa ini secara
ajaib membentuk suatu kelompok dan terbang dalam suatu formasi berbentuk
huruf “V”. Pada formasi ini angsa terdepan mengeluarkan tenaga paling
besar, ia membuka jalur udara untuk angsa-angsa dibelakangnya, sehingga
angsa dibelakangnya dapat menghemat energi. Ketika angsa terdepan ini lelah,
angsa dibelakangnya menggantikannya. Mereka mengatur diri hingga mereka bisa
keluar dari kondisi kritis ini.
Ketika seorang dikejar anjing galak, orang itu berada pada kondisi kritis.
Disini sel-sel tubuh orang ini mengatur diri. Sel-sel ini secara serentak
mengubah ATP (adenin Tri phospat) menjadi ADP (adenin diphospat) dengan
melepaskan phospatnya. Pengubahan ini menghasilkan energi ekstra yang
digunakan untuk keluar dari kondisi kritis ini. Yang semula orang itu hanya
bisa melompat 1 meter, kini secara tiba-tiba mampu melompat lebih dari 1,5
meter.
Ketika mengikuti acara pemberian medali Olimpiade Fisika Internasional, saat
nama sang absolute winner (juara) diumumkan, secara serentak penonton berdiri
memberikan tepuk tangan yang terus menerus, dengan irama yang enak didengar.
Kembali kondisi kritis mendorong pengaturan diri (self organizing).
Peristiwa pengaturan diri pada kondisi kritis (Self organizing criticality)
ini terjadi juga dalam bisnis atau kehidupan sosial. Seorang pebisnis ketika
bisnisnya berada pada kondisi kritis, secara tiba-tiba menemukan jalan
keluar, ada proses pengaturan diri dimana lingkungan (semesta) membantu dia
untuk keluar dari krisisnya. Mereka sering namakan ini invisible hand.
Atau seorang yang ingin sekali sembuh dari penyakitnya secara ajaib mendapat
petunjuk dari sekelilingnya (dari temannya, saudaranya ataupun dari alam
sekelilingnya) untuk sembuh dari penyakitnya. Alam mengatur dirinya untuk ia
keluar dari kondisi kritis. Menurut suatu penelitian tubuh kita sudah
mempunyai mekanisme sendiri untuk menyembuhkan berbagai penyakit melalui
pengaturan sel-sel tubuhnya.
Peristiwa pengaturan diri pada keadaan kritis (self organizing criticality)
untuk mengeluarkan kita dari kondisi kritis ini saya namakan MESTAKUNG
(MES = seMESta, KUNG = menduKUNG). Ketika terjadi kondisi kritis Tuhan
telah menyediakan semesta (yang dimaksud semesta dalam hal ini adalah sel-sel
tubuh kita, pikiran, keluarga, teman, lingkungan dan alam sekitar kita) yang
akan mengatur diri untuk membantu kita keluar dari kondisi ini.
Hukum Alam
Self
organizing Criticality atau Mestakung ini merupakan hukum alam. Sama
seperti hukum-hukum alam lainnya (misalnya hukum Gravitasi, hukum benda
terapung dsb), hukum ini akan bekerja tidak tergantung pada apakah kita
percaya atau tidak. Benda yang dilepas di atas permukaan bumi akan jatuh ke
bawah, tidak pernah jatuh ke atas terlepas kita percaya atau tidak.
Demikian hukum Mestakung ini akan bekerja pada siapa saja terlepas kita
percaya atau tidak, terlepas kita agama, suku, atau ras apapun.
Hukum
Mestakung ini terdiri dari 3 hukum yang saya ringkaskan sebagai Krilangkun
(merupakan singkatan dari kata KRItis, LANGkah dan teKUN). Hukum ini berbunyi
sebagai berikut:
Hukum 1:
hukum Kritis
„Pada setiap kondisi KRITIS ada
jalan keluar“
Hukum 2: hukum Langkah
„Ketika seorang MELANGKAH, ia
akan melihat jalan keluar“
Hukum 3: hukum Tekun
„Ketika seorang TEKUN
melangkah, ia akan mengalami mestakung (semesta mendukung).
Penjelasan hukum 1:
Telah kita lihat dalam berbagai contoh di atas bahwa pada setiap
kondisi kritis pasti ada jalan untuk keluar dari kondisi kritis itu. Semua agama
mengajarkan bahwa kalau kita berada dalam kondisi kritis jangan menyerah,
Tuhan Yang Maha Kuasa sudah menyediakan jalan keluar.
Ada dua jenis kondisi kritis: kondisi kritis
sekarang dan kondisi kritis yang diciptakan.
Kondisi kritis sekarang maksudnya
adalah kondisi kritis yang sedang dialami atau sedang menimpa saat ini.
Misalnya pada contoh diatas angsa yang sedang menghadapi musim dingin
ataupun orang yang sedang dikejar anjing. Contoh lain adalah mereka
yang sedang sakit, atau menghadapi masalah keluarga, masalah bisnis (hutang
yang tidak terbayar) atau masalah apapun juga. Hukum ini mengatakan bahwa
pada masalah-masalah ini ada jalan keluar. Jadi jangan takut, percayalah
bahwa telah tersedia jalan keluar.
Kondisi kritis yang diciptakan
adalah kondisi kritis yang kita buat sendiri. Misalnya pada contoh diatas
adalah tentang pasir yang dituangkan membentuk bukit pasir ataupun air yang
dibuat pada keadaan kritis. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menciptakan
kondisi kritis yaitu dengan keluar dari zona kenyamanan (comfort zone) kita.
Kita bisa membuat target-target yang tinggi misalnya penghasilan yang dua
kali lipat lebih besar, juara dalam pertandingan tingkat dunia, membangun
gereja besar, mengerti suatu hukum alam, menjadi peraih Nobel, mempunyai
keluarga yang sejahtera, mendirikan sekolah ataupun mendirikan rumah sakit.
Bagi mereka yang menginginkan suatu perubahan, ciptakanlah kondisi kondisi
kritis berupa target-target yang tinggi.
Penjelasan hukum 2:
Kalau kita mau melihat jalan keluar dari kondisi
kritis, kita harus melangkah yaitu dengan membuat strategi untuk
menyelesaikan masalah itu, rajin bertanya pada banyak orang, meminta bantuan
dan nasehat orang bijak, sharing (bercerita) pada orang disekitar kita,
membaca buku dan literatur, belajar dari orang yang berhasil keluar dari
kondisi yang mirip, berlatih keras, ataupun merenung sambil berpikir.
Ketika kita melangkah inilah kita akan melihat
titik-titik terang berupa pemecahan masalah. Magnet pada kondisi kritis
tidak mungkin kehilangan kemagnetannya kalau kita tidak menaikan suhunya.
Suatu bahan superkonduktor yang berada pada suhu kritis tidak akan menjadi
superkonduktor jika suhunya tidak diturunkan sedikit lagi. Angsa-angsa tidak
mungkin keluar dari kondisi kritisnya jika ia tidak bertemu dengan
angsa-angsa lain untuk terbang bersama. Orang yang dikejar anjing tidak
mungkin lepas dari gigitan anjing jika tidak melangkah lari. Seorang yang
ingin jadi presiden tidak mungkin bisa jadi presiden jika tidak membuat
strategi kesana. Seorang yang ingin sembuh tidak mungkin sembuh jika tidak
mencari jalan atau nasehat orang-orang yang sebelumnya pernah mengalami hal
yang sama.
Penjelasan hukum 3:
Pada kondisi kritis, ketika kita terus melangkah
dan melangkah dengan tekun, maka kita akan melihat mestakung, semesta
mendukung kita untuk keluar dari kondisi kritis. Tuhan telah menciptakan
semesta untuk kita keluar dari kondisi kritis ini. Mestakung hanya bekerja
ketika kita tekun. Sel-sel orang yang dikejar anjing tidak mungkin
menghasilkan energi yang lebih jika orang itu tidak tekun berlari dan
berlari. Seorang Jonathan Pradhana Mailoa tidak mungkin jadi absolute winner
olimpiade fisika ke 38 di Singapura jika tidak tekun berlatih dan berlatih
(ketika berlatih dan berlatih keras inilah semesta mendukung, para pelatih
terdorong untuk memberikan buku dan materi yang tepat, para sponsor terdorong
untuk memberikan dana bagi pelatihan, keluarga mendukung, sekolah dan
yayasannya mendukung, teman-temannya mendukung, semua mendukung sehingga apa
yang diimpi-impikan oleh Jonathan berupa medali emas olimpiade fisika bisa
tercapai).
Seorang Wahid Supriadi Supriadi tidak mungkin
membuat Festival Indonesia di Melbourne. Menurut apa yang saya dengan dari Wahid Supriadi, Konsul Jenderal Indonesia di Melbourne KJRI
tidak punya dana promosi untuk menyelenggarakan festival Indonesia ini.
Mereka harus memutar otak untuk mencari dana. Mereka melangkah, KJRI
mendirikan Lembaga Independen Festival Indonesia Inc. dengan modal nol!
Mereka melangkah lagi, mengirim surat ke ratusan perusahaan/institusi
potensial baik di Australia maupun di Indonesia untuk minta dukungan. Namun,
responnya sangat menyedihkan. Apakah mereka menyerah? Tidak! Pak Wahid tekun
melangkah, membangkitkan semangat para penyelenggara, menyusun strategi,
menghubungi semua kontak baik individu maupun lembaga-lembaga swasta dan
pemerintah yang masuk dalam mailing list KJRI, dan menjual program-program
FI. Tahu apa yang terjadi? Terjadilah Mestakung di mana-mana.
Mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Australia menyingsingkan
lengan bajunya. Mereka bekerja bersama-sama, mengatur acara, mencari dana,
mengundang orang-orang terkenal dari Indonesia untuk acara seminar,
mengundang para penari untuk menunjukkan budaya Indonesia, dan sebagainya.
Beberapa Pemda mulai menunjukkan komitmennya, para sponsor pelan-pelan mulai
menghubungi panitia, dan juga kalangan pengusaha mulai mendaftarkan diri
untuk ikut konferensi walaupun harus membayar. Bahkan dalam minggu-minggu
terakhir beberapa sponsor utama datang dan menyatakan komitmennya untuk
membantu festival tersebut. Ribuan orang datang ke Federal Court di Melbourne
untuk menyaksikan Festival yang luar biasa ini. Selama dua hari festival
budaya, makanan, dan perdagangan dihadiri sekitar 67 ribu orang, sementara business
conference dihadiri sekitar 150 pengusaha, pejabat Pemda baik dari
Indonesia maupun Australia. Luar biasa! Selesai acara, pemerintah kota
Melbourne memberikan pujian dan meminta agar acara ini dapat diselenggarakan
secara rutin setiap tahun di Melbourne. Pemerintah Melbourne bahkan berjanji
akan mendukung termasuk pendanaannya. Luar biasa! Ketekunan membangkitkan
mestakung yang membantu keluar dari kondisi kritis.
Apakah Mestakung meniadakan peran Tuhan?
Ada yang bertanya pada saya apakah dengan adanya
Mestakung, tidak ada lagi peran Tuhan? Jika tidak ada peran Tuhan apakah
Tuhan itu perlu ada?
Dalam konsep mestakung, kita mengenal Tuhan
sebagai pencipta Mestakung. Tuhanlah yang menciptakan semesta yang
dapat mengatur diri ketika suatu sistem disekitarnya berada pada keadaan
kritis, untuk membantu sistem itu keluar dari kondisi kritis. Disini
peran Tuhan sangat jelas. Tanpa Tuhan tidak akan ada mestakung. Tanpa Tuhan
tidak pernah ada konsep pengaturan diri sendiri yang begitu indah.
(Yohanes Surya) http://www.yohanessurya.com/activities.php?pid=401
|
Mottoku
Minggu, 06 Juli 2014
Hukum Mestakung
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar