(http://www.smallcrab.com/others/494-empat-type-kecerdasan-manusia )
-
Disunting oleh Hubertus B. Fanumbi, Ss -
Pendahuluan
Sebagai Makluk
ciptaan TUHAN yang paling istimewa di jagad raya ini, manusia diberikan
pelbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Sebut saja Kecerdasan Fisik (Physical
Quotient – PQ ), Kecerdasan intelektual
(Intelligence Quotient – IQ), kecerdasan emosional (Emosional Quotient – EQ) , kecerdeasan Spiritual (Spiritual
Quotient – SQ0 adalah 4 kecerdasan yang dilimpahkan Tuhan bagi manusia dalam
menata kehidupannya.
Kelebihan –
kelebihan ini tentu saja sangat membantu manusia mampu berpikir tentang dirinya
sendiri, mampu berpikir tentang orang lain di sekitarnya, mampu berpikir
tentang apapun yang diinginkannya.Melalui hasil pemikirannya, manusia mampu
mengelola apapun untuk menyempurnakan diri dan kehidupannya. Itulah sebabnya Rene
Descartes seorang filsuf asal Yunani yang hidup pada tahun 1596-1650 menggambarkan
kedasyatan keunggulan manusia dalam keberadaannya di tengah dunia ini . Salah
satu semboyannya yang paling dikenal hingga saat ini adalah Cogito Ergo Sum
(aku berpikir maka aku ada). Baginya
eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat
diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya
tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya, tidak dapat diragukan lagi
bahwa pikiran itu sendiri eksis/ada. Pikiran sendiri bagi Descrates ialah suatu
benda berpikir yang bersifat mental (res cogitans) bukan bersifat
fisik atau material.
Keistimewaan yang dianugerahkan TUHAN bagi manusia
tentu saja bertujuan agar manusia mampu mengelola segala sesuatu yang tersedia
di muka bumi ini demi penyempurnaan kehidupan dan kehidupan sesama serta Alam
yang dihuninya. Namun, meskipun memiliki keunggulan yang unik, manusia tentu
saja tidak secara otomatis dapat memperbaiki diri dan kehidupannya sesuai
dengan apa yang diinginkannya, karena caranya berpikir harus disinkronkan pula dengan
pengelolaan secara baik dan benar atas aspek emosi dan aspek spiritualitas di
dalam dirinya sebab ketergantungan manusia pada Akal / Nalarnya dapat “membunuh
pertumbuhan dan perkembangan diri manusia dan manusia lainnya yang berinteraksi
sebagai makluk sosial di dalam dunia sosialnya.
Dalam interaksi sosial, empat (4) tipe kecerdasan ini harus
selalu dioptimalkan oleh setiap orang sehingga konflik dan “Chaos” tidak menghantar manusia membunuh
pertumbuhan dan perkembangan dirinya, sesama dan lingkungan dimana ia berada.
Pemikiran Rene Descartes dengan slogannya yang terkenal COGITO ERGO SUM telah menginspirasi manusia menyelami dirinya dan
menemukan bahwa manusia tidak hanya bertumpu pada NALAR-nya melainkan harus
berjuang sekuat tenaga untuk mengelola Emosionalitas dan spiritualitasnya agar
tebentuklah HARMONISASI KEPRIBADIAN. Dalam
konteks menyempurnakan diri dan sesamanya ( aktualisasi diri ), saya mengajak kita
untuk selalu berusasa mengenal dan mengelola empat (4) tipe kecerdasan kita
sebagai manusia.
Empat tipe kecerdasan yang wajib dikeloa secar abaik
dan benar oleh manusia adalah :
- Kecerdasan Fisik atau Tubuh (Physical Intelligence atau Physical Quotient PQ),
- Kecerdasan Mental atau Intelektual (Inteliligence Quotient IQ),
- Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient EQ) , dan
- Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient SQ)
1.
Kecerdasan Fisik (Physical Quotient – PQ)
Kecerdasan
Fisik (PQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita. Kita sering tidak
memperhitungkannya. Coba renungkan : Tanpa adanya perintah dari kita tubuh kita
menjalankan sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf dan
sistem-sistem vital lainnya. Tubuh kita terus menerus memantau lingkungannya,
menghancurkan sel pembawa penyakit, mengganti sel yang rusak dan melawan
unsur-unsur yang mengganggu kelangsungan hidup. Seluruh proses itu berjalan di
luar kesadaran kita dan berlangsung setiap saat dalam hidup kita. Ada
kecerdasan yang menjalankan semuanya itu dan sebagian besar berlangsung di luar
kesadaran kita.
2.
Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient – IQ)
IQ adalah
kemampuan nalar, atau pikiran orang sering menyebutnya dengan kemampuan Otak
Kiri. Yaitu kemampuan kita untuk mengetahui, memahami, menganalisis, menentukan
sebab akibat, berpikir abstrak, berbahasa, memvisualkan sesuatu. Di zaman dulu
IQ dijadikan ukuran utama kecerdasan seseorang. Baru kemudian disadari bahwa
konsep dan batasan-batasan di atas seperti itu terlalu mempersempit kecerdasan
tersebut.
Otak kiri
bertanggung jawab untuk “”pekerjaan” verbal, kata-kata, bahasa, angka-angka,
matematika, urut-urutan, logika, analisa dan penilaian dengan cara berpikir
linier. Melatih dan membelajarkan otak kiri akan membangun kecerdasan
intelektual (IQ). Otak kanan bertanggungjawab dan berkaitan dengan gambar,
warna, musik, emosi, seni/artistik, imajinasi, kreativitas, dan intuitif.
3.
Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient – EQ)
EQ adalah
pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati dan
kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan Emosi
adalah kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, dan
keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan menghormati perbedaan. EQ
digambarkan sebagai kemampuan otak kanan dan dianggap lebih kreatif, tempat
intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh.
Penggabungan
pemikiran (otak kiri) dan perasaan (otak kanan) akan menciptakan keseimbangan,
penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, kecerdasan
emosional akan merupakan penentu keberhasilan dalam berkomunkasi, relasi dan
dalam kepemimpinan dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (nalar).
Seseorang
yang memiliki IQ tinggi tetapi memiliki kecerdasan emosionalnya (EQ) rendah,
dia tidak tahu bagaimana membangun hubungan dengan orang lain. Orang itu
mungkin akan menutupi kekurangannya itu dengan bersandar pada kemampuan
intelektualnya dan akan mengandalkan posisi formalnya.
4. Kecerdasan Spriritual (Spiritual Quotient – SQ)
Sebagaimana
EQ, maka SQ juga merupakan arus utama dalam kajian dan diskusi folosofis dan psikologis.
Kecerdasan spiritual merupakan pusat dan paling mendasar di antara kecerdasan
lainnya, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi tiga
kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan kita akan makna dan
hubungan dengan yang tak terbatas.
Kecerdasan Spiritual juga membantu
kita untuk mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian
dari nurani kita, yang dapat dilambangkan sebagai kompas. Kompas merupakan gambaran
fisik yang bagus sekali bagi prinsip, karena dia selalu menunjuk ke arah utara.
Penutup
Usaha untuk
menyempurnakan diri atau aktualisasi diri yang sehat hanya dapat berhasil jika
setiap manusia mampui memahami potensi kekayaan dirinya dan kemudian berusaha mengelola
keunggulan keunggulan pribadinya sengan baik dan benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar