Mottoku

Admin mengucapkan Selamat Beraktivitas - Sehat dan Sukses selalu

Senin, 07 Juli 2014

Kecerdasan Manusia : PQ - IQ - EQ dan SQ



(http://www.smallcrab.com/others/494-empat-type-kecerdasan-manusia )
-          Disunting oleh Hubertus B. Fanumbi, Ss - 


Pendahuluan
 
Sebagai Makluk ciptaan TUHAN yang paling istimewa di jagad raya ini, manusia diberikan pelbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Sebut saja Kecerdasan Fisik (Physical Quotient – PQ ), Kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient – IQ), kecerdasan emosional (Emosional Quotient – EQ) , kecerdeasan Spiritual (Spiritual Quotient – SQ0 adalah 4 kecerdasan yang dilimpahkan Tuhan bagi manusia dalam menata kehidupannya. 

Kelebihan – kelebihan ini tentu saja sangat membantu manusia mampu berpikir tentang dirinya sendiri, mampu berpikir tentang orang lain di sekitarnya, mampu berpikir tentang apapun yang diinginkannya.Melalui hasil pemikirannya, manusia mampu mengelola apapun untuk menyempurnakan diri dan kehidupannya. Itulah sebabnya Rene Descartes seorang filsuf asal Yunani yang hidup pada tahun 1596-1650 menggambarkan kedasyatan keunggulan manusia dalam keberadaannya di tengah dunia ini . Salah satu semboyannya yang paling dikenal hingga saat ini adalah Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Baginya eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya, tidak dapat diragukan lagi bahwa pikiran itu sendiri eksis/ada. Pikiran sendiri bagi Descrates ialah suatu benda berpikir yang bersifat mental (res cogitans) bukan bersifat fisik atau material.  

Keistimewaan yang dianugerahkan TUHAN bagi manusia tentu saja bertujuan agar manusia mampu mengelola segala sesuatu yang tersedia di muka bumi ini demi penyempurnaan kehidupan dan kehidupan sesama serta Alam yang dihuninya. Namun, meskipun memiliki keunggulan yang unik, manusia tentu saja tidak secara otomatis dapat memperbaiki diri dan kehidupannya sesuai dengan apa yang diinginkannya, karena caranya berpikir harus disinkronkan pula dengan pengelolaan secara baik dan benar atas aspek emosi dan aspek spiritualitas di dalam dirinya sebab ketergantungan manusia pada Akal / Nalarnya dapat “membunuh pertumbuhan dan perkembangan diri manusia dan manusia lainnya yang berinteraksi sebagai makluk sosial di dalam dunia sosialnya. 

Dalam interaksi sosial, empat (4) tipe kecerdasan ini harus selalu dioptimalkan oleh setiap orang sehingga konflik dan “Chaos” tidak menghantar manusia membunuh pertumbuhan dan perkembangan dirinya, sesama dan lingkungan dimana ia berada. Pemikiran Rene Descartes dengan slogannya yang terkenal COGITO ERGO SUM telah menginspirasi manusia menyelami dirinya dan menemukan bahwa manusia tidak hanya bertumpu pada NALAR-nya melainkan harus berjuang sekuat tenaga untuk mengelola Emosionalitas dan spiritualitasnya agar tebentuklah HARMONISASI KEPRIBADIAN.  Dalam konteks menyempurnakan diri dan sesamanya ( aktualisasi diri ), saya mengajak kita untuk selalu berusasa mengenal dan mengelola empat (4) tipe kecerdasan kita sebagai manusia.

Empat tipe kecerdasan yang wajib dikeloa secar abaik dan benar oleh manusia adalah :
  • Kecerdasan Fisik atau Tubuh (Physical Intelligence atau Physical Quotient PQ),
  • Kecerdasan Mental atau Intelektual (Inteliligence Quotient IQ),
  • Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient EQ) , dan
  • Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient SQ)
1. Kecerdasan Fisik (Physical Quotient – PQ)

Kecerdasan Fisik (PQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita. Kita sering tidak memperhitungkannya. Coba renungkan : Tanpa adanya perintah dari kita tubuh kita menjalankan sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf dan sistem-sistem vital lainnya. Tubuh kita terus menerus memantau lingkungannya, menghancurkan sel pembawa penyakit, mengganti sel yang rusak dan melawan unsur-unsur yang mengganggu kelangsungan hidup. Seluruh proses itu berjalan di luar kesadaran kita dan berlangsung setiap saat dalam hidup kita. Ada kecerdasan yang menjalankan semuanya itu dan sebagian besar berlangsung di luar kesadaran kita.

2. Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient – IQ)

IQ adalah kemampuan nalar, atau pikiran orang sering menyebutnya dengan kemampuan Otak Kiri. Yaitu kemampuan kita untuk mengetahui, memahami, menganalisis, menentukan sebab akibat, berpikir abstrak, berbahasa, memvisualkan sesuatu. Di zaman dulu IQ dijadikan ukuran utama kecerdasan seseorang. Baru kemudian disadari bahwa konsep dan batasan-batasan di atas seperti itu terlalu mempersempit kecerdasan tersebut.

Otak kiri bertanggung jawab untuk “”pekerjaan” verbal, kata-kata, bahasa, angka-angka, matematika, urut-urutan, logika, analisa dan penilaian dengan cara berpikir linier. Melatih dan membelajarkan otak kiri akan membangun kecerdasan intelektual (IQ). Otak kanan bertanggungjawab dan berkaitan dengan gambar, warna, musik, emosi, seni/artistik, imajinasi, kreativitas, dan intuitif.

3. Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient – EQ)

EQ adalah pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan Emosi adalah kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, dan keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan menghormati perbedaan. EQ digambarkan sebagai kemampuan otak kanan dan dianggap lebih kreatif, tempat intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh.

Penggabungan pemikiran (otak kiri) dan perasaan (otak kanan) akan menciptakan keseimbangan, penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, kecerdasan emosional akan merupakan penentu keberhasilan dalam berkomunkasi, relasi dan dalam kepemimpinan dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (nalar).

Seseorang yang memiliki IQ tinggi tetapi memiliki kecerdasan emosionalnya (EQ) rendah, dia tidak tahu bagaimana membangun hubungan dengan orang lain. Orang itu mungkin akan menutupi kekurangannya itu dengan bersandar pada kemampuan intelektualnya dan akan mengandalkan posisi formalnya.

4. Kecerdasan Spriritual (Spiritual Quotient – SQ)

Sebagaimana EQ, maka SQ juga merupakan arus utama dalam kajian dan diskusi folosofis dan psikologis. Kecerdasan spiritual merupakan pusat dan paling mendasar di antara kecerdasan lainnya, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.

Kecerdasan Spiritual juga membantu kita untuk mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, yang dapat dilambangkan sebagai kompas. Kompas merupakan gambaran fisik yang bagus sekali bagi prinsip, karena dia selalu menunjuk ke arah utara. 

Penutup 
 
Usaha untuk menyempurnakan diri atau aktualisasi diri yang sehat hanya dapat berhasil jika setiap manusia mampui memahami potensi kekayaan dirinya dan kemudian berusaha mengelola keunggulan keunggulan pribadinya sengan baik dan benar.   
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar